Dari FPI, Tifatul, sampai Luna Maya

Desember 23, 2009 at 10:04 am (Catatan) (, , , , , , , )

Ini bukan dalam rangka mencari hubungan antara Tifatul dengan Luna Maya, apalagi Luna Maya dengan FPI (Front Pembela Islam). Tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya secuil pendapat saya tentang disfungsi media komunikasi dewasa ini, termasuk infotainment.

Mulai dari yang paling hangat. Ribut-ribut soal Luna Maya vs Infotaiment. Saya kutip dari bocahiseng.blogspot.com, perseteruan ini dimulai dari Alea (Putri dari Ariel) yang saat itu sedang di gendongan Luna kepalanya terbentur kamera salah satu awak infotainment. Kemarahan karena insiden ini dituangkan Luna pada akun twitternya, she wrote, “Infotmnt derajatnya lebih HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!may ur soul burn in hell.” Coba Luna tau ayat ini,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujuraat:12]

Kemungkinan kalimatnya nambah, tak cuma pelacur dan pembunuh, tapi juga pemakan bangkai.

Lucunya Infotainment tak terlalu membahas asal muasal kemarahan Luna ini. Tertutup oleh berita yang diulang-ulang tentang kalimat makiannya saja. Infotainment juga secara asal mengarahkan opini publik bahwa Luna Maya adalah seorang Psikopat. Kalau disebut Luna Maya emosional sih masih bisa diterima, ini Psikopat. Dari manakah dasar penilaiannya? Itu kan namanya stigmasisasi. Padahal untuk menilai seseorang apakah dia psikopat atau tidak kan bukan dengan diagnosa asal. Bukan karena saya membela, hanya mengambil contoh malfunction yang di idap infotainment sebagai bagian dari ruang media massa. Seharusnya ada KPG ya, Komisi Pemberantasan Ghibah.

Rasulullah saw bersabda,“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, mulu dan kemaluan” (hr. Tirmidzi), juga dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, “Dan tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka.”

Luna Maya hanya satu contoh kecil. Banyak lagi lah contohnya. Terkadang memang media ini menyiarkan faktanya, bahkan langsung dari sumbernya, tapi di lain sisi mereka pun sekaligus mengarahkan opini massa sesuai dengan maunya mereka. Faktanya disiarkan sekali, yang ‘sesuai-maunya’ puluhan kali.

Lagi. Baru-baru ini juga isu anget-taik-kerbau ditiup media kita, “Tifatul memecat Adnan dari Wantimpres.” Gegara si Adnan menghujat Tifatul sebagai juru bicara koruptor. Padahal aslinya yang dikatakan Pak Tifatul akan memecat Adnan jadi Abangnya kalau sampai ngomong begitu (Pak Tif memanggil Adnan dengan panggilan Abang). Tapi tak kelihatan kemana kata Abang-nya.

Juga tentang RUU Penyadapan (bener ya?). Hebohnya. Padahal kan untuk pembahasan PP saja masih membutuhkan jangka waktu yang lama. Dan anehnya media seperti mengarahkan bahwa Pak Tifatul lah pengarang RUU ini, padahal aslinya itu sudah ada sejak zaman Pak Nuh (Menkominfo sebelumnya). Parahnya banyak orang di negeri kita ini kesukaannya ikut-ikutan menghujat tanpa tau permasalahannya.

Dan kemudian masih ingatkah kau dengan insiden Monas, Kawan. Yang ter-hot adalah foto Munawarman yang sedang mencekik seseorang. Di media televisi dan cetak diberitakan BESAR-BESARAN bahwa Munawarman mencekik seorang anggota AKKBP. PADAHAL foto itu adalah foto Munawarman yang sedang menghalau (bukan mencekik sebenarnya) anggota FPI lainnya agar tidak terpancing emosi atas keributan yang sengaja dimulai oleh AKKBP. Dampak yang diinginkan antek-antek sepilis ini tentulah pencitraan negatif terhadap FPI. (bisa dibaca di kolom Sirikit Syah, Pengamat Media dari Lembaga Konsumen Media, Majalah Sabili).

Many more. Sayangnya rakyat kita mudah sekali terpengaruh oleh provokasi media. Entah itu benar atau tidak. Semogalah ke depannya masyarakat lebih cerdas lagi dalam memilah berita. Tak tau tabayyun, jangan asal kunyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: