Dari FPI, Tifatul, sampai Luna Maya

Desember 23, 2009 at 10:04 am (Catatan) (, , , , , , , )

Ini bukan dalam rangka mencari hubungan antara Tifatul dengan Luna Maya, apalagi Luna Maya dengan FPI (Front Pembela Islam). Tidak ada hubungannya sama sekali. Hanya secuil pendapat saya tentang disfungsi media komunikasi dewasa ini, termasuk infotainment.

Mulai dari yang paling hangat. Ribut-ribut soal Luna Maya vs Infotaiment. Saya kutip dari bocahiseng.blogspot.com, perseteruan ini dimulai dari Alea (Putri dari Ariel) yang saat itu sedang di gendongan Luna kepalanya terbentur kamera salah satu awak infotainment. Kemarahan karena insiden ini dituangkan Luna pada akun twitternya, she wrote, “Infotmnt derajatnya lebih HINA dr pd PELACUR, PEMBUNUH!!!may ur soul burn in hell.” Coba Luna tau ayat ini,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujuraat:12]

Kemungkinan kalimatnya nambah, tak cuma pelacur dan pembunuh, tapi juga pemakan bangkai.

Lucunya Infotainment tak terlalu membahas asal muasal kemarahan Luna ini. Tertutup oleh berita yang diulang-ulang tentang kalimat makiannya saja. Infotainment juga secara asal mengarahkan opini publik bahwa Luna Maya adalah seorang Psikopat. Kalau disebut Luna Maya emosional sih masih bisa diterima, ini Psikopat. Dari manakah dasar penilaiannya? Itu kan namanya stigmasisasi. Padahal untuk menilai seseorang apakah dia psikopat atau tidak kan bukan dengan diagnosa asal. Bukan karena saya membela, hanya mengambil contoh malfunction yang di idap infotainment sebagai bagian dari ruang media massa. Seharusnya ada KPG ya, Komisi Pemberantasan Ghibah.

Rasulullah saw bersabda,“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, mulu dan kemaluan” (hr. Tirmidzi), juga dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, “Dan tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka.”

Luna Maya hanya satu contoh kecil. Banyak lagi lah contohnya. Terkadang memang media ini menyiarkan faktanya, bahkan langsung dari sumbernya, tapi di lain sisi mereka pun sekaligus mengarahkan opini massa sesuai dengan maunya mereka. Faktanya disiarkan sekali, yang ‘sesuai-maunya’ puluhan kali.

Lagi. Baru-baru ini juga isu anget-taik-kerbau ditiup media kita, “Tifatul memecat Adnan dari Wantimpres.” Gegara si Adnan menghujat Tifatul sebagai juru bicara koruptor. Padahal aslinya yang dikatakan Pak Tifatul akan memecat Adnan jadi Abangnya kalau sampai ngomong begitu (Pak Tif memanggil Adnan dengan panggilan Abang). Tapi tak kelihatan kemana kata Abang-nya.

Juga tentang RUU Penyadapan (bener ya?). Hebohnya. Padahal kan untuk pembahasan PP saja masih membutuhkan jangka waktu yang lama. Dan anehnya media seperti mengarahkan bahwa Pak Tifatul lah pengarang RUU ini, padahal aslinya itu sudah ada sejak zaman Pak Nuh (Menkominfo sebelumnya). Parahnya banyak orang di negeri kita ini kesukaannya ikut-ikutan menghujat tanpa tau permasalahannya.

Dan kemudian masih ingatkah kau dengan insiden Monas, Kawan. Yang ter-hot adalah foto Munawarman yang sedang mencekik seseorang. Di media televisi dan cetak diberitakan BESAR-BESARAN bahwa Munawarman mencekik seorang anggota AKKBP. PADAHAL foto itu adalah foto Munawarman yang sedang menghalau (bukan mencekik sebenarnya) anggota FPI lainnya agar tidak terpancing emosi atas keributan yang sengaja dimulai oleh AKKBP. Dampak yang diinginkan antek-antek sepilis ini tentulah pencitraan negatif terhadap FPI. (bisa dibaca di kolom Sirikit Syah, Pengamat Media dari Lembaga Konsumen Media, Majalah Sabili).

Many more. Sayangnya rakyat kita mudah sekali terpengaruh oleh provokasi media. Entah itu benar atau tidak. Semogalah ke depannya masyarakat lebih cerdas lagi dalam memilah berita. Tak tau tabayyun, jangan asal kunyah.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

What the HEH !!!

November 19, 2009 at 7:19 am (Catatan) (, , )

Bujang Kecik : ngko ni ape la, dah aku cakap kalo nak pinjam sepeda ku ni cakap dulu sama aku. F**k you la..

Bujang Bessa : what the f**k ! bagos betol hape mike (kamu) ni…

Bujang Kota : o f**k! Lu pake kaki donk kalo jalan, jangan pake mata!!!

Bujang Kampung : hahaha,,, pak yu la (f**k you) ,, *abis denger guyon temennya*

Bujang Darat : M****r F***er… kereeenn *lagi di sorum*

Entah mereka ngerti atau tidak makna kata-kata itu. Selanjutnya kata-kata tersebut saya “samar”kan menjadi “Kata-Kata-di-Atas”. Khawatir tulisan ini dijadikan lirik lagu baru oleh Eminem. Kata-Kata-di-Atas sepertinya mengalami Ameliorasi (Peningkatan Makna) di Indonesia. Bukan sebuah umpatan lagi, tapi bisa kita temui sebagai ungkapan takjub, ungkapan lucu, ungkapan biasa, dan sedihnya kata-kata jorky from west ini ternyata sekarang bisa kita jumpai dikalangan anak-anak setingkat SD, apalagi SMP dan SMA.

Fuck is an English word which, when used literally, means “to have sexual intercourse” and is generally considered extremely vulgar. It is commonly considered to be one of the most impolite yet flexible curse words in the English language. It can be used as a verb, noun, adjective, (”fucking”), adverb (”fucking”), or interjection. It is unclear whether the word has always been considered impolite and, if not, when it was initially considered to be profane. Some evidence indicates that in some English-speaking locales it was considered acceptable as late as the 17th century meaning “to strike” or “to penetrate” [1]. Other evidence indicates that it may have become vulgar as early as the 16th century in England. Other reputable sources such as the Oxford English Dictionary contend the true etymology is still uncertain but appears to point to an Anglo-Saxon origin that in later times spread to the British colonies and worldwide. [wikipedia.org]

Jadi  Kata-Kata-di-Atas artinya bersetubuh/berhubungan intim. Kata-kata yang dianggap paling tidak sopan dan vulgar. Sebenarnya untuk padanan kata yang lain Kata-Kata-di-Atas bisa berarti lain. Soalnya ga’ semua bahasa inggris bisa di-translate ke bahasa Indonesia dengan sempurna [anima.dudut.com/archives/bahasa-indonesianya-fuck.html/]. Tapi untuk percakapan bujang-bujang diatas artinya memang kotor. Karena itu seringkali kita lihat Kata-Kata-di-Atas selalu ditulis dengan tanda bintang (F**K). Atau pada lagu-lagu Rap seringkali diskip/dipotong/disensor.

Selain artinya yang vulgar, asal muasal Kata-Kata-di-Atas juga dari kegiatan seks [http://blog.arieflatu.net/2009/07/fuck.html/]. Sedangkan mengenai gesture jari tengah, adalah representasi alat kelamin pria. Kalau “F” lengkap dengan gesture jari- nya, ini lebih kasar, dan umumnya hanya untuk hiperagresifitas. Sedangkan kalau gesture jari saja tanpa “F”, ini merupakan isyarat yang sama saja artinya dengan menyebutkan “F”. [http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090727005403AAItpHg]. Kalo mau melucu silahkan gunakan kata-kata lain yang lebih mendidik. Banyak pelawak yang tidak menggunakan bahasa kotor untuk melawak.

Dan di Indonesia, ternyata ga’ sedikit pemakainya adalah orang-orang yang kemampuan bahasa Inggris nya nge-pas-tewas. Buah ketidak-pahaman dan ketidak-mau-mencari-tahu-an.  Atau tau tapi ga’ mau tau. Belum pernah saya temui orang-orang yang fasih berbahasa Inggris di lingkungan saya, entah itu tetangga (guru Les Bahasa Inggris), Dosen-Dosen, bahkan teman-teman saya yang English-nya cas-cis-cus menggunakan Kata-Kata-di-Atas. Karena memang artinya yang tidak sopan. Seorang Bule di Batam juga pernah dipolisikan karena ngatain seorang Bapak dengan Kata-Kata-di-Atas.

Anda pernah lihatkan di Album Rappers barat didepan Kaset dan CD nya tertera label “Parental Advisory Lyrics” (Bimbingan Orangtua)? Pastinya sudah pada tau lah gimana lirik-lirik lagu mereka banyak Kata-Kata-di-Atas. Dan kenapa mesti dilabeli “Parental Advisory Lyrics” di tempat asalnya? Karena Kata-Kata-di-Atas ini ditempat asalnya tetaplah tertinta sebagai kata-kata kotor. Walaupun mereka sering menggunakan. Tapi kita bukan mereka.

Di Indonesia sendiri ada Orang yang jadi “korban-sekorban-korbannya” gaya Rapper Amerika. Kalo ga’ salah  Rapper asuhannya Ahmad Dhani, Republik Cinta. Bener ga? (kalo salah benerin). Saya lupa apa namanya. Tau nya dari adek cowok saya. Lagu ini kalo ga’ salah tentang Maia Ratu, Kangen Band, Agnes Monica, lupa siapa lagi (tolong benerin kalo salah). Denger lagu Rapper-sekorban-korbannya ini saya ga sanggup sampai habis. Bedanya sama Rapper barat cuma terletak Kata-Kata-di-Atas nya aja yang di-bahasa-Indonesia-kan. F**K sama artinya dengan N*****T yang dinyanyikan oleh si Rapper-sekorban-korbannya ini. ‘Afwan jiddan, tapi terpaksa saya sebut lagi, agar kita tau segimana kotornya dan ga’ sembarangan ngomong.

Lagu ini udah lama beredar bebas di playlist anak-anak SMA. Entah pemerintah tau atau ga’ lagu ini. Ironis jika Negara se-sekuler Singapore sanggup mencekal album dan kedatangan penyanyi sekelas Britney Spears dan Janet Jackson dikarenakan lirik jorky mereka, kenapa kita ga’ bisa.

Sejauh ini menurut saya jorky-words-phenomenon ini akibat dari media-media yang mengalami disfungsi ini. Ga’ heran anak-anak tanggung di kampung Pak Cik Mansor yang udah dapet siaran tipi pun familiar dengan Kata-Kata-di-Atas. Cuma bisa ngomong “kok ngomongnya gitu dek.” Dikira artinya permen kali ya. Anak-anak dare pon dah berani pake kasut 7 centi plus celana Britney Spears. Atau bisa jadi akibat pengaruh para pendatang dari kota yang juga sudah terpengaruh budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya kita (di buku PPKn Negara kita sih begini di ajarin). Maka ramai-ramai lah MakCik-MakCik mencontek gaya Puan-Puan dari kota ni. Anak dare pon mencontoh Mak die. Lepas tu berantai-rantai lah jadinya. Kalau tak pengaruh dari situ ya dari sana. Efek domino inilah yang tidak pernah dipikirkan oleh ekspresor bablas ini. Atau juga mungkin telah dipikirkan, untuk menghancurkan. Kalo kita nyebutnya makar, kalo mereka “ini seni”. Dan sejauh ini mereka cukup berhasil menjadikan Kata-Kata-di-Atas sebagai percakapan sehari-hari anak-anak dan pemuda-pemuda kita.

Disinilah urgensi agama sebagai alat filterisasi di era yang serba maju-mundur ini. Apa jadinya anak-anak kita bila sering mendengar lagu-lagu dengan lirik kotor dibalik head-set handphone mereka? Apa jadinya bila mereka terbiasa melihat adegan-adegan seks bebas dan kata-kata kotor di dunia maya, kartun, majalah2, film-film Hollywood (bahkan film-film Indonesia juga banyak)? Lama-lama jadi biasa. Lama-lama hilang yang namanya “malu”. Ngomong kotor jadi biasa. Apalagi kalau pemuda dan anak-anak kita cuma jadi korban taqlid dan ketidak-tahuan.

Jadi jagalah anak-anak kita dari serangan-serangan yang lebih berbahaya dari peluru Israel ini. Membekali dengan pengetahuan, ‘ilmu. Dengan ‘ilmu, dengan tau, dapat menjadi imun bagi kita dan penerus kita dari radiasi bebas sisa-sisa budaya pagan. Membentengi diri kita dan mereka dengan pengetahuan agamanya (Al-Quran dan Sunnah Rasulullah), karena itulah satu-satunya filter terbaik untuk keselamatan dunia akhirat. Fenomena di atas bukan saja akibat dari buah ketidak-pahaman mereka, buah ketidak-mau-tau-an, tapi bisa jadi buah dari kelalaian kita. Allahu a’lam bish showab.

Dari Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka”. Beliau bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Engkau harus menyembah Alloh dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda. “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” Hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan,” (As-Sajdah 16-17). Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian kuberitahu pangkal agama, tiangnya dan puncak tertingginya?”. Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat,-pent), tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian kuberitahu tentang kendali bagi semua itu?” Saya menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.” Saya berkata, “Wahai Nabi Alloh, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?” Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur kedalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu (dalam riwayat lain: dengan lehernya terlebih dahulu) itu gara-gara buah ucapan lisannya?” (HR. Tirmidzi ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

“… jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (hr. Bukhari)

*judul diatas diambil dari Plurker di kontak plurk saya, Pak Ihwan*

by : Anak Ayah

[http://stonestalk.multiply.com/journal/item/14/What_the_HEH_]

Permalink 1 Komentar

Pada Mulanya Kata

November 17, 2009 at 7:30 am (Catatan) (, , , , , )

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah menyampaikan nasihat  sesuai dengan latar belakang obyeknya

Pernahkah Anda mempunyai pengalaman dibawa ke dokter ketika sakit. Lalu Anda langsung merasa sehat ketika kembali ke rumah, padahal obat belum diminum. Sebabnya, sang dokter mengatakan, “O, ini penyakit karena capek saja. Istirahat sebentar, nanti juga sembuh.”

Lalu, bagaimana kalau dokter mengatakan sebaliknya, “Penyakit Anda, berbahaya, menular dan tak bisa disembuhkan?” Seketika itu juga Anda sudah merasa mati, sebelum ajal menjemput.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering perang berkobar akibat kata. Begitu pula sebaliknya. Perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Oleh sepotong kata.

Seorang penulis wanita dari Jerman, Annemarie Schimmel, mengulas tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia. Katalah yang mengantarkan wahyu. Kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga; jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang lain kepada Allah agar taat dan beribadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat memengaruhi proses perubahan tak lain adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi tugas para nabi dan rasul. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah),” (QS asy-Syura: 48).

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.

Soal berkomunikasi yang baik, al-Qur’an menyebutnya dengan qaulan sadidan (QS an-Nisa: 9). Qaulan sadidan bermakna “pembicaraan yang benar.”  Karena itu, yang harus ditumbuhkan dalam pergaulan adalah rasa sikap saling percaya, agar terhindar sikap berpikir negatif (su-u zhan).

Dalam surah al-Israa’ ayat 17 terdapat kalimat qaulan kariman yang bermakna perkataan yang mulia. Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti lawan bicara kita, khususnya mereka yang lebih tua dari kita.

Selanjutnya, dalam surah an-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’rufan (perkataan yang baik). Kebalikannya, perkataan yang baik harus kita ucapkan ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih rendah dari kita, seperti anak, pembantu dan bawahan.

Qaulan layyinan sebagaimana tersebut dalam surah Thaha ayat 44 adalah komunikasi yang harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut. Ketika lawan bicara kita emosional dan egois, maka hendaknya kita tidak bersikap bak api melawan api. Tapi, lawanlah api dengan air.

Lalu ada pula qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih), sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisaa ayat 63. Dengan begitu, pesan sampai sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehendak hawa nafsunya. Dengan perkataan yang jelas, maka tertutuplah ruang-ruang fitnah.

Komunikasi dakwah juga harus dilakukan dengan menggunakan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (QS al-Israa: 28). Sebagai manusia, kita pernah berjanji dan mungkin tidak bisa ditunaikan karena segala keterbatasan. Maka berilah perkataan yang pantas untuk menghapus kekecewaan. Jangan justru mencari-cari alasan yang malah akan lebih menyakitkan.

Kata-kata yang kuat mencerminkan pribadi seseorang. Tak ada cara selain bersandar kepada Yang Maha Perkasa, Allah SWT.  Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah  dikenal mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit,” kata orang yang pernah menghadiri ceramahnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang pandai berceramah dan singa mimbar, jagoan panggung tapi hanya melakukannya sebagai rekreasi intelektual, maka Allah SWT mengancam, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (QS ash-Shaf: 3)

Tentu saja hal ini harus dipahami secara konstruktif. “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka” (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kaidahnya. Sifat ini hendaknya menjadi karakter seorang dai. Dengan demikian, diharapkan ia bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menimbang persoalan dengan timbangan yang benar dan tidak memihak. Dalam bahasa dakwah, ini dikenal juga dengan istilah hikmah. Allah berfirman: “Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah),” (QS al-Baqarah: 269).

Menurut Syekh Muhammad al-Ghazali, seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, kecerdasan yang dimaksud di sini, bukan berarti seseorang harus jenius. Yang dituntut adalah kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini, seorang juru dakwah dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya dapat memberikan solusi. Kata-kata yang ia sampaikan pun menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah menyampaikan nasihat  sesuai dengan latar belakang obyeknya. Suatu ketika beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan dalam riwayat Thabrani disebutkan, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”

Singkatnya, mendekatlah pada Allah dan Anda akan menjadi pribadi yang kuat. Maka meluncurlah dari mulut Anda kata-kata yang menyelamatkan. Karena jihad yang utama adalah menyampaikan kebenaran di depan penguasa. Tanpa kedekatan dengan Allah SWT, mustahil hal ini terwujud. [Eman Mulyatman]

Co-paste from : Majalah Sabili —> click here

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mengentaskan Kekayaan

Oktober 24, 2009 at 6:54 am (Catatan) (, , , )

Di tengah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, Rasulullah saw memutuskan untuk beristirahat sejenak. Ketika semua anggota rombongan mulai mengambil tempat untuk melepas lelah dan membuka perbekalan, tampak seorang laki-laki yang sibuk hilir mudik dekat beliau. Dari atas punggung unta yang terlihat sangat keletihan, lelaki itu melirik ke sana-kemari dengan pandangan mata yang sayu.

Rasulullah saw segera menangkap bahasa tubuh lelaki itu, maka dengan suara yang bergema dan penuh wibawa. Beliau berkata kepada seluruh sahabatnya,

“Siapa yang punya tunggangan (kendaraan) lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya kendaraan. Siapa yang punya perbekalan lebih, maka berikanlah kepada orang yang tidak punya perbekalan.” (HR. Muslim dan Abu Dawud).

Menurut Abu Sa`id al-Khudri, sahabat yang menuturkan kisah ini, selain dua jenis harta di atas, Rasulullah juga menyebut beberapa jenis harta lainnya yang mesti diperlakukan sama.

Karena begitu banyak jenis harta yang disebut, sempat terlintas dalam benak para sahabat, bahwa harta yang melebihi batas kebutuhan tidak lagi menjadi hak pemiliknya, melainkan harus diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Peristiwa tersebut berlalu begitu cepat, tapi ajaran yang disampaikan Rasulullah saw membentuk pandangan hidup yang sangat mendalam tentang persoalan yang senantiasa aktual sepanjang waktu, yaitu kemiskinan dan kekayaan.

Fenomena miskin dan kaya diposisikan dalam Islam sebagai pasangan yang saling terkait dan tidak mungkin dipisahkan, sama seperti semua wujud ciptaan Allah di alam raya. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya,

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS adz-Dzariyat: 49)

Dengan demikian, miskin dan kaya adalah dua entitas yang tidak mungkin berdiri sendiri. Artinya, kemiskinan akan menjadi masalah jika kekayaan pun bermasalah. Generasi awal Islam memahami betul hal ini, baik dalam kapasitas individu maupun pemerintah.

Bahkan, jika boleh dibilang, mereka melihat sikap dan perilaku menyimpang orang-orang kaya adalah biang sebenarnya dari segala dampak buruk yang timbul dari kemiskinan. Tepatnya, ketika orang kaya tidak punya pandangan yang benar tentang konsep kekayaan dan tidak pernah merasa cukup karena cara konsumsi yang dipakainya tidak lepas dari israf atau tabdzir.

Maka akibatnya adalah, peredaran harta terbatas hanya pada segelintir orang kaya (dulatan bainal aghniya’), sementara orang-orang miskin tidak mendapatkan bagian yang cukup untuk sekedar mengisi perutnya.

Dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi menuturkan pernyataan tegas Ali bin Abi Thalib ra, “Allah telah mewajibkan kepada orang-orang kaya agar memberikan hartanya sebanyak yang dapat mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Karena itu, jika orang-orang miskin itu kelaparan, tidak berpakaian dan menderita, maka penyebabnya adalah orang-orang kaya itu enggan memberi. Allah pasti akan menghisab dan mengazab mereka karena sikapnya itu.”

Pernyataan tegas Ali di atas mengandung banyak sekali pelajaran yang berharga untuk kita semua.

Pertama; Konsep mendasar tentang rezeki, bahwa Allah SWT menjamin rezeki seluruh manusia dengan meletakkan kecukupan bagi orang-orang miskin pada kelebihan harta orang-orang kaya.

Kedua; Harta yang wajib dikeluarkan orang-orang kaya pada dasarnya harus sesuai dengan kebutuhan orang-orang miskin, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya. Konsekuensinya, jika zakat wajib tidak dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut maka orang-orang kaya masih berkewajiban mengeluarkan hartanya. Dan, inilah pandangan yang berkembang di masa generasi awal Islam. Abdullah bin Umar menyatakan, “Pada harta ada kewajiban selain zakat.”

Ketiga; Orang kaya yang bermasalah adalah biang dari berbagai dampak buruk yang timbul dari kemiskinan.

Kini, di saat umat manusia semakin jauh dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya, masalah kemiskinan dan kekayaan tidak dipandang dengan jernih. Kemiskinan dipisahkan dari pasangannya, lalu disikapi dengan nyinyir dan dimusuhi sehingga harus diberantas atau sehalus-halusnya dientaskan.

Sementara kekayaan dan orang-orang kaya dibiarkan melenggang di atas pentas syuh (egoisme), israf dan tabdzir (hedonisme). Padahal, mengentaskan kemiskinan hanya akan menjadi jargon kosong, bahkan membuahkan pemiskinan, jika dilakukan dengan tanpa lebih dulu mengentaskan kekayaan. [Asep Sobari – Sabili ed. 26]

Sumber : click here

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar