Pada Mulanya Kata

November 17, 2009 at 7:30 am (Catatan) (, , , , , )

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah menyampaikan nasihat  sesuai dengan latar belakang obyeknya

Pernahkah Anda mempunyai pengalaman dibawa ke dokter ketika sakit. Lalu Anda langsung merasa sehat ketika kembali ke rumah, padahal obat belum diminum. Sebabnya, sang dokter mengatakan, “O, ini penyakit karena capek saja. Istirahat sebentar, nanti juga sembuh.”

Lalu, bagaimana kalau dokter mengatakan sebaliknya, “Penyakit Anda, berbahaya, menular dan tak bisa disembuhkan?” Seketika itu juga Anda sudah merasa mati, sebelum ajal menjemput.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering perang berkobar akibat kata. Begitu pula sebaliknya. Perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Oleh sepotong kata.

Seorang penulis wanita dari Jerman, Annemarie Schimmel, mengulas tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia. Katalah yang mengantarkan wahyu. Kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga; jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang lain kepada Allah agar taat dan beribadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat memengaruhi proses perubahan tak lain adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi tugas para nabi dan rasul. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah),” (QS asy-Syura: 48).

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia.

Soal berkomunikasi yang baik, al-Qur’an menyebutnya dengan qaulan sadidan (QS an-Nisa: 9). Qaulan sadidan bermakna “pembicaraan yang benar.”  Karena itu, yang harus ditumbuhkan dalam pergaulan adalah rasa sikap saling percaya, agar terhindar sikap berpikir negatif (su-u zhan).

Dalam surah al-Israa’ ayat 17 terdapat kalimat qaulan kariman yang bermakna perkataan yang mulia. Ayat ini sangat memelihara perasaan sehingga tidak menyakiti lawan bicara kita, khususnya mereka yang lebih tua dari kita.

Selanjutnya, dalam surah an-Nisaa ayat 5 terdapat kata qaulan ma’rufan (perkataan yang baik). Kebalikannya, perkataan yang baik harus kita ucapkan ketika kita berinteraksi dengan orang yang lebih rendah dari kita, seperti anak, pembantu dan bawahan.

Qaulan layyinan sebagaimana tersebut dalam surah Thaha ayat 44 adalah komunikasi yang harus dilakukan dengan perkataan yang lemah lembut. Ketika lawan bicara kita emosional dan egois, maka hendaknya kita tidak bersikap bak api melawan api. Tapi, lawanlah api dengan air.

Lalu ada pula qaulan balighan (perkataan yang jelas atau fasih), sebagaimana tercantum dalam surah an-Nisaa ayat 63. Dengan begitu, pesan sampai sebagaimana adanya, bukan sebagaimana kehendak hawa nafsunya. Dengan perkataan yang jelas, maka tertutuplah ruang-ruang fitnah.

Komunikasi dakwah juga harus dilakukan dengan menggunakan qaulan maysuran atau perkataan yang pantas (QS al-Israa: 28). Sebagai manusia, kita pernah berjanji dan mungkin tidak bisa ditunaikan karena segala keterbatasan. Maka berilah perkataan yang pantas untuk menghapus kekecewaan. Jangan justru mencari-cari alasan yang malah akan lebih menyakitkan.

Kata-kata yang kuat mencerminkan pribadi seseorang. Tak ada cara selain bersandar kepada Yang Maha Perkasa, Allah SWT.  Ustadz Hasan al-Banna rahimahullah  dikenal mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit,” kata orang yang pernah menghadiri ceramahnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang pandai berceramah dan singa mimbar, jagoan panggung tapi hanya melakukannya sebagai rekreasi intelektual, maka Allah SWT mengancam, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (QS ash-Shaf: 3)

Tentu saja hal ini harus dipahami secara konstruktif. “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka” (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kaidahnya. Sifat ini hendaknya menjadi karakter seorang dai. Dengan demikian, diharapkan ia bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menimbang persoalan dengan timbangan yang benar dan tidak memihak. Dalam bahasa dakwah, ini dikenal juga dengan istilah hikmah. Allah berfirman: “Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah),” (QS al-Baqarah: 269).

Menurut Syekh Muhammad al-Ghazali, seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, kecerdasan yang dimaksud di sini, bukan berarti seseorang harus jenius. Yang dituntut adalah kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini, seorang juru dakwah dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya dapat memberikan solusi. Kata-kata yang ia sampaikan pun menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah menyampaikan nasihat  sesuai dengan latar belakang obyeknya. Suatu ketika beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan dalam riwayat Thabrani disebutkan, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”

Singkatnya, mendekatlah pada Allah dan Anda akan menjadi pribadi yang kuat. Maka meluncurlah dari mulut Anda kata-kata yang menyelamatkan. Karena jihad yang utama adalah menyampaikan kebenaran di depan penguasa. Tanpa kedekatan dengan Allah SWT, mustahil hal ini terwujud. [Eman Mulyatman]

Co-paste from : Majalah Sabili —> click here

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar