Meratakan Al-Aqsa Untuk Kedatangan Mesiah

November 19, 2009 at 4:44 am (JIHAD ZONE) (, , , , , )

Yahudi Israel tambah sibuk mengumpulkan dana untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa,’Semua yang kita tahu bahwa kita sekarang hidup di zaman mukjizat, “Yehuda Glick direktur eksekutif Temple Institute, mengatakan kepada Sydney Morning Herald Sabtu 14 November.

Glick, 44 tahun Yahudi kelahiran Amerika , menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersiapkan kedatangan Mesiah.Itu bisa jadi besok, tetapi mungkin 100 tahun lagi, atau bahkan 400 tahun.”

Dalam tradisi Yahudi, Mesiah merujuk kepada suatu masa depan Raja Israel, dari garis keturunan Daud, yang akan memerintah bangsa Israel. Dia mengawasi pembuatan peralatan yang akan diperlukan apabila waktunya tiba.dia juga mempersiapkan pakaian khusus bagi para rabbi, tempat khusus untuk kurban persembahan, kemenyan piala, tembaga kapal untuk makanan persembahan, perak untuk anggur dan  persembahan anggur.

Persiapan untuk Mesiah datang, Glick sedang sibuk menahan rencana untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsa dan membangun Haikal dugaan (Bait Salomo).

”Kami bermaksud untuk hanya membangun Kubah Batu (kuil di tengah kompleks Al-Aqsa), “kata Glick.Kita mungkin bisa menemukan cara untuk memasukkannya ke dalam rumah suci ketiga.

Untuk ini, orang-orang Yahudi Israel, yang didukung oleh Kristen Evangelis AS, yang mengumpulkan dana untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsa dan membangun Haikal.”Kami mulai memungut dana mulai 100 dolar,”kata Glick.

‘Ada 70 juta evangelis Kristen di seluruh dunia, dan kebanyakan dari mereka telah menjadi pendukung terkuat Israel.”

Beberapa pemimpin Gereja telah berulang kali menyatakan bahwa mereka memiliki kewajiban moral dan alkitabiah untuk mendukung dan melindungi Israel.

Sebelumnya

Para rabi Israel terus meningkatkan seruannya untuk secepatnya mengotori Masjidil Aqsa, mempercepat munculnya juru selamat dan membangun kuil yang mereka klaim. Sementara itu Gerakan Islam di Palestina 48 mengingatkan akan meletusnya kobaran api yang lebih dahsyat.

Dalam konferensi yang diselenggarakan oleh Sayap Kanan untuk hak-hak kuil pada hari Ahad lalu di Yerusalem, tokoh agama garis keras Yahudi mengajak orang-orang Yahudi untuk mengunjungi tanah haram Al-Quds bertepatan dengan upaya warga Palestina yang mereka klaim mencoba mengotori lokasi kuil itu.

Konferensi itu dihadiri oleh tokoh agama Yahudi terkemuka dan anggota Knesset seperti Uri Auerbach, Rabbi Yuval Cerlo dan Profesor Hillel Weiss.

Profesor Hillel Weiss, yang dikenal provokatif dalam hal pemukiman, telah menyerukan untuk pembangunan Kuil ke-3 sekarang juga. Weiss mengatakan bahwa tidak ada tempat untuk ragu-ragu dan merasa enggan.dan pembangunan kuil itu tidak harus dengan pembongkaran Masjidil Aqsha dan Kubah Shakrah.

Sementara Kepala Organisasi Yehuda Glick yang memprakarsai konferensi itu menegaskan bahwa sudah tiba saatnya untuk tidak menyerah kepada ‘kekerasan orang Arab’. Ia juga menyerukan orang-orang Yahudi untuk tidak meninggalkan lokasi tanah haram Al-Quds.

Rabbi di pemukiman yang bersebelahan dengan Hebron, Kiryat Arba, menilai bahwa salah satu alasan tidak adanya perdamaian karena kalangan media Israel acuh tak acuh terhadap masalah ‘hak untuk mengunjungi Bukit Kuil’, yang berada di lokasi tanah haram Al-Aqsa. “Mengembalikan tempat itu demi kedaulatan Israel yang sebenarnya akan mempercepat juru selamat,” ujar Arba dengan penuh semangat.

Terkait kondisi itu, surat kabar terbitan Israel, Haaretz, dalam sebuah editorialnya pada Selasa (27/10), menyinggung ihwal bakal ledakan dari ‘kawah bukit itu’ di tanah haram dan bentrokan beraroma agama. Surat kabar itu juga mengritik yahudisasi Israel di kota itu dan meminta kepolisian agar menahan diri dan menghindari konflik.

Patut dicatat bahwa ada puluhan organisasi Yahudi yang aktif guna membangun kuil rekaan mereka, yang mereka yakini berada tepat di lokasi Aqsha dan Kubah Batu. Organisasi-organisasi itu sangat menikmati dukungan publik yang itdak kecil setelah sebelumnya ide kuil rekaan itu terbatas pada segelintir orang Yahudi. Demikian seperti ditegaskan Yizhar Bar, pengamat kelompok-kelompok Yahudi kepada aljazeera.

Dalam konteks inilah Menteri Minoritas Israel, Avishay Braverman, menuduh kaum sayap kanan Yahudi bertanggung jawab karena telah memprovokasi tindakan dan pernyataan Muslimin.

Braverman mengatakan kepada sebuah siaran Radio Matahari di Nazaret, kaum sayap kanan itu justru telah memperkuat kekuatan ‘ekstremis Islam’ dan menyebabkan Israel terancam di mana pun di dunia ini. Ia juga mengingat bahwa Al-Aqsa seperti korek api yang dapat memicu kebakaran di wilayah ini, yang tidak akan mampu dipadamkan walaupun oleh seribu rabi.

Di lain pihak, Syekh Kamal Khatib, Wakil Presiden Gerakan Islam Utara, menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu adalah orang yang telah meluncurkan terowongan pertama di bawah Al-Aqsa pada bulan September 1996, dan pada hari ini ia kembali mendapatkan ‘kehormatan’ sebagai kepala pemerintahan yang meletakkan fondasi batu pertama untuk pembangunan Kuil ke-3 rekaan itu.(Iol/knrp/sbl)

Source : http://sabili.co.id/ –> click here

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Cara Mereka Menghancurkan Kita

Oktober 27, 2009 at 12:38 pm (Ghazwul Fikr) (, , , )

Simulasi Ghazwul Fikr

Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata, “Saya punya permainan… Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya.

Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai.”

“Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, selingkuh dan zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, tawuran menjadi trend pemuda… dan lain lain.”

“Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya.
“Baik permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?” Nah, nah, nah. Murid-Muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya… Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan… Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Premanpun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.”

“Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian… Paham anak-anak?”
“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, Bu? ” tanya mereka.

“Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.”

“Begitulah Islam… Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.”

Source —> http://islamismywaylife.blog.friendster.com/ghazwul-fikr

http://stonestalk.multiply.com/journal/item/5/Cara_Mereka_Menghancurkan_Kita

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar